Bagaimana Realisasi Ajaran Universal Aswaja?

164

Sebagai aliran dan paham yang setia pada ajaran Rasulullah dan sahabat, Aswaja memiliki ajaran universal yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks, kondisi dan situasi.

Menurut KH. Sahal Mahfud, Aswaja dalam pengertiannya yang utuh memiliki sifat dan karakteristik moderat dan menjunjung tinggi keseimbangan dalam beragama Islam. Aswaja adalah aliran tengah dari dua kutub besar, yaitu aliran Jabbariyah yang fatalistik dan aliran Qadariyah yang rasionalis.

Dalam penggalian (istinbath) hukum Islam kedua aliran ini menggunakan pendekatan tekstual (Jabbariyah yang ekstrim ke kanan) dan rasional (Qadariyah yang ekstrim ke kiri).

Dikaji secara historis, Aswaja memiliki beberapa ajaran universal yang menyemesta dalam ruang lingkup tempat dan kondisi yang heterogen, yaitu tawasuth (jalan tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus). Keempat nilai-nilai universal tersebut diterapkan dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam, baik didalam aspek fiqih (hukum Islam), akidah (teologi) maupun tasawuf (akhlak).

Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai manhaju al-fikr (metode berfikir) bagi setiap pengikut paham Aswaja. Hal demikian sebagai konsekuensi dari lahirnya Aswaja yang mengedepankan ajaran dan nilai-nilai universal kehidupan (rahmatan li al-‘alamin).

Dalam globalisasi dan modernisasi yang serba maju dalam teknologi, berwatak empiris, matrealis dan hedonis realisasi nilai-nilai tersebut dalam memandang hidup dan memahami agama sudah menjadi keniscayaan.

Jika tidak, maka justru Islam dan umatnya akan tergerus oleh berbagai dampak negatif globalisasi.

Lebih dalam lagi, Gus Dur merumuskan kerangka aktualisasi pengembangan doktrin Aswaja dalam desain dan format yang lebih komprehensif, progresif dankontekstual. Dalam kaitan ini ia mengajukan tujuh pokok pemikiran Aswaja sebagai berikut:

1. Dalam masalah kehendak, manusia dihadapan nasib yang ditentukan Allah.

2. Dalam masalah konsep ilmu, Aswaja memiliki dimensi yang berbeda dari pengertian umum yang berlaku.

3. Dalam masalah ekonomi, Aswaja melihat bahwa kebutuhan ekonomi umat manusia harus diletakkan dalam konteks tempatnya dalam kehidupan, yaitu sebagai penerima karunia Allah yang masih harus tunduk kepada takdirnya.

4. Dalam masalah hubungan individu dan masyarakat, Aswaja berpendapat manusia sebagai individu harus memperoleh perlakuan yang seimbang.

5. Dalam masalah tradisi, Aswaja berpendapat bahwa tradisi merupakan warisan berharga dari masa lampau yang harus dilestarikan, tanpa menghambat tumbuhnya kreatifitas individual.

6. Dalam masalah pengembangan hidup masyarakat, Aswaja melihat bahwa kehidupan manusia senantiasa berubah, oleh karena itu semua sumber daya, harus selalu dikembangakan dan di dayagunakan secara bijaksana, efisien dan tidak merusak.

7. Dalam masalah asas-asas internalisasi dan sosialisasi, Aswaja dituntut harus mengembangkan dan mendinamisasi pemikiran keagamaan melalui ushul fiqih, qawa’idah fiqhiyah dan sebagainya kepada masyarakat.

Sehingga, pandangan di atas akan membentuk perilaku kelompok dan individual yang terdiri dari sikap hidup, pandangan hidup, dan sistem nilai yang secara khusus dapat disebut sebagai watak Ahlus sunnah Waal-Jama’ah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here