Pengertian Evaluasi Adalah?… Evaluasi Diri Dalam Islam

289

Pengertian Evaluasi Adalah?… Evaluasi Diri Dalam Islam – Pembahasan kita pada pertemuan kali ini sebagai berikut:

  • Apa pengertian evaluasi?…
  • Apa arti evaluasi?…
  • Apa pengertian evaluasi diri?…
  • Bagaimana sih evaluasi diri dalam islam?…

Pengertian evaluasi

Pengertian Evaluasi adalah, Evaluasi diri dalam islam

  • Pengertian evaluasi adalah proses analisa.
  • Pengertian evaluasi adalah analisa yang sistematis.
  • Pengertian evaluasi adalah penilaian.
  • Pengertian evaluasi adalah proses menentukan nilai.
  • Pengertian evaluasi adalah proses menentukan keputusan.
  • Dan lain sebagainya.

Evaluasi berasal dari kata “Evaluation” yang berarti penaksiran, perkiraan, penilaian.

Pengertian evaluasi adalah sebuah kegiatan (dapat berupa tindakan, analisa atau yang semacamnya) untuk memberikan sebuah makna terhadap apa-apa yang sudah dikerjakan dan dirasakan selama ini.

Artinya… Pengertian evaluasi adalah menelaah dari apa yang sudah dikerjakan dan dampak dari yang dikerjakan tersebut.

Evaluasi digunakan untuk mengambil keputusan yang paling tepat dan sesuai dengan realita yang terjadi.

Jadi, evaluasi adalah sebuah analisa dari kenyataan, bukan hasil dari teori, adapun teori yang digunakan maka teori tersebut diambil berdasarkan sebuah keadaan nyata sebelumnya.

Ada banyak pengertian evaluasi dalam bidangnya masing-masing, namun makna dari pengertian evaluasi adalah sebagaimana yang dijelaskan diatas yaitu menganalisa terhadap apa yang sudah dilakukan dan dampak dari yang sudah dilakukan.

Contoh sederhana, evaluasi pembelajaran.

Pengertian evaluasi pembelajaran adalah menganalisa metode pembelajaran yang sudah dilakukan dan dampak dari metode tersebut.

Karena ada banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan, apakan metode tersebut sudah dijalankan dengan benar, apakah dampak negatif dan positif dari metode tersebut dan lain sebagainya.

Sehingga evaluasi ini menjadi bahan pertimbangan, apakah tahun depan akan menggunakan metode yang sama atau menggunakan metode lain yang dianggap lebih baik.

Oleh karena itu, ada bebepa pendapat yang memberikan pengertian evaluasi dalam gaya bahasa yang berbeda namun secara inti adalah sama sebagaimana yang dijelaskan diatas.

Pengertian evaluasi diri

Evaluasi diri

Sedangkan pengertian evaluasi diri adalah penilaian terhadap apa yang sudah dikerjakan dan apa yang sudah dihasilkan dari kerjaan tersebut.

Misalnya saja kita berada di awal tahun. Nah,,, apakah tahun lalu kita melakukan banyak hal?… dan apakah yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang sudah kita lakukan.

Ada orang yang sudah melakukan banyak hal dan ia pun menerima banyak yang dari yang sudah ia lakukan.

Tapi ada orang yang tidak banyak melakukan hal, tapi ia banyak menerima manfaat meski hal yang ia lakukan sedikit.

Kira-kira seperti ini “Tahun lalu saya tidak banyak berbuat hal yang menakjubkan tapi hoki saya kok bagus banget ya…”, artinya apa?… sedikit berbuat tapi banyak mendapat.

Tapi ada juga orang yang sudah banyak berbuat tapi dampak perbuatannya dirasa sangat sedikit.

Sudah usaha mati-matian tapi kok kayanya hidupnya gitu-gitu aja.

Disinilah pentingnya evaluasi diri, kita berharap apa yang kita kerjakan dapat membawakan hasil yang memuaskan dimasa mendatang.

Jangan sampai apa yang kita kerjakan tidak membawakan hasil sama sekali.

Baca juga :

Evaluasi diri dalam Islam

Pada tempatnya kita melakukan introspeksi, pada tempatnya kita melakukan evaluasi diri. Sebagaimana pendidikan yang kita peroleh pada bulan suci Ramadha.

Jika seorang pemain sepak bola, masuk lapangan untuk latihan maka ketika keluar lapangan permainannya akan semakin hebat.

Seorang petenis masuk latihan, keluar latihan maka tenisnya akan semakin bagus.

Itu atlit,,,

Jika latihan tiap hari tapi main kalah terus. Orang lainkan dapat menilai “Untuk apa latihan bung,,, kalau main kalah terus”.

Sepanjang Ramadhan, sebulan penuh kita digembleng dan di gojlo, berlatih menahan hawa nafsu. Untuk apa?…

Untuk menghadapi 11 bulan setelah bulan suci Ramadhan.

Kalau setelah Ramadhan kita kalah lagi oleh setan, kalah lagi oleh iblis dan memperturutkan hawa nafsu kita. CELAKA, latihan kita selama sebulan penuh pada Ramadhan tidak membawakan hasil yang harapkan.

Sebagai introspeksi itu, pada kesempatan ini saya akan menyampaikan sebuah hadits yang memberikan gambaran kepada kita bahwa ibadah merupakan satu totalitas, satu keutuhan yang satu berkait dengan yang lain.

Suatu hari ketika Rasul berkumpul dengan para sahabat, Rasul bertanya “Ataddruna manil mukhlis?…” yang arti dan maknanya “Sahabat-sahabat sekalian, apakah kalian tau siapasih orang yang bangkrut itu, orang yang sial, orang yang tidak beruntung, orang yang merugi. Siapa mereka?…”.

Bangkrut, sial, tidak beruntung, merugi. Kalimat yang membuat kita mendengarnya saja sudah risih. Apa lagi jika mengalaminya.

Semua dari kita ingin menghindar dari kebangkrutan, kerugian, kesialan. Nah, Nabi bertanya itu kepada para sahabat. Siapakan orang yang bangkrut, sial, merugi itu?…

Macam-macamlah jawaban para sahabat pada waktu itu. Dan ada yang menjawan “Menurut pendapat kami ya Rasul, orang bangkrut, orang sial, orang tidak beruntung, orang yang merugi adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta”.

Apalagi ketika menjelang lebaran, janganlah gaya hidupnya, gaya jalannya saja sangat berbeda. Tampak jelas sekali perbedaan orang yang mempunyai harta dan yang tidak.

Katanya, Uang itu raja. Lidah yang paling faseh untuk bicara adalah uang, senjata yang paling ampuh maju ke medan perang adalah uang.

Urusan Negara tentang macet dibicarakan dengan lidah serat maka dibicarakan dengan uang topcer. Bahkan meriampun tidak akan bunyi jika ditutup dengan uang dan begitu urusan lainnya.

Begitulah pandangan sebagian besar sahabat dan begitulah pandangan sebagian besar dari kita sekarang ini.

Begitulah memang, bahwa materialisme, edonisme, menggiring kita untuk menilai seseorang dari penampilan.

Maka berpayah-payahlah kita menghabiskan sejumlah dana untuk mengurus penampilan ini.

Tidak munafik, banyak pengusaha yang tidak mau menanda tangani kontrak tanpa jam tangan rolex, sepatu mewah, jas dan pakaian yang serba waah… dan begitula seterusnya.

Berpacu menata penampilan.

Begitulah orang yang merugi menurut sahabat dan kebanyakan orang, orang yang tidak punya uang, tidak punya harta, tidak berpakaian mewah dan lain sebagainya.

Mendengar jawaban ini, Rasul tersenyum “Tidak, bukan itu orang yang bangkrut, bukan yang tidak punya uang, bukan yang tidak punya harta. Orang yang sial, orang yang bangkrut, orang yang merugi dari kalanganku adalah orang-orang yang pada hari esok membawa pahala sholat, puasa, zakat dan pahala ibadah lainnya tapi juga membawa kesalahan karena pernah mencacimaki orang lain, pernah memfitnah orang lain, pernah memakan harta orang dengan cara yang batil, pernah mengalirkan darah orang lain dengan alasan yang tidak benar”.

Dan jika ini yang terjadi, lantas bagaimana nasib?…

Disatu sisi ia membawa berbagai pahala dari amal ibadahnya kepada Allah SWT, tapi disisi lain ia membawa dosa akibat menyakiti orang lain.

Dan jika ini yang terjadi, pada masa perhitungan ia akan merugi karena pahalanya akan terkuras habis oleh dosanya pada orang lain, bahkan dosa orang yang dizoliminya harus ia tanggung apabila tidak ada lagi pahala yang dapat diberikan sebagai ganti rugi karena telah menyakiti orang tersebut.

Ketika masa perhitungan amal. “Tuhan, ini pahala sholat saya”.

Tapi disisi lain ada orang yang menuntut balas “Tunggu Tuhan, selama hidupnya ia memang rajin sholat tapi ia pernah mencacimaki saya ditengah orang banyak, hancur saya karenanya. Selama didunia saya tidak bisa menuntutnya karena posisinya lebih tinggi, tapi disini saya menuntut keadilan”.

  • “Benar orang ini pernah kau cacimaki?…”
  • “Ya Tuhan”.
  • “Tanpa alasan yang dibenarkan?…”
  • “Ya Tuhan”.
  • “Kalau begitu, mari pahala sholatmu berikan pada orang yang kau cacimaki itu”.

Lalu, “Tuhan, ini pahala puasa saya”.

Dan disisi lain “Tunggu sebentar Tuhan, ia memang rajin berpuasa, tapi selama hidupnya ia pernah memfitnah saya hingga tercoreng arang didahi, orang lain tidak percaya lagi kepada saya”.

  • “Benar orang ini pernah kau fitnah?…”
  • “Ya Tuhan”.
  • “Tanpa alasan yang dibenarkan?…”
  • “Ya Tuhan”.
  • “Kalau begitu, mari pahala puasamu berikan pada orang yang kau fitnah itu”.
  • Dan begitu seterusnya

Meskipun kita banyak beribadah tapi jika kita hidup menzolimi orang lain maka mereka akan menuntut balas atas perbuatan kita didunia.

Jika pahala ibadahnya sudah habis, tapi orang yang menuntut masih banyak, orang yang ia zolimi masih banyak, orang yang ia sakiti masih banyak, orang yang ia makan hartanya masih banyak. Apa yang terjadi?…

Kesalahan orang yang ia zolimi, ia caci maki, ia maka hartanya, ia fitnah maka diambil dosa orang tersebut dan diberikan kepadanya”.

Tidak ada lagi pahala yang bisa diberikan sebagai ganti rugi atas perbuatan salah didunia kepada orang lain, maka dosa orang yang dizolimi tersebut diberikan kepada yang menzoliminya sebagai ganti rugi atas perbuatan salah selama didunia.

Sudah pahala dipereteli, dosa ditangguhkan pula kepadanya. Inikan bangkrut, inikan rugi, inikan sial, inikan tidak beruntung namanya.

Ibarat orang dagang, modal sudah habis tapi tagihan hutang masih datang terus hingga pada akhirnya kita terkena perkara.

Dan pada akhirnya, ia dilemparkanlah kedalam neraka.

Oleh karena itu, marilah kita melakukan introspeksi diri, evaluasi. Sudah baik hubungan kita dengan Allah, Alhamdulillah.

Tapi disisi lain, marilah kita memperhatikan hubungan kita antar sesama manusia.

Baik sesama muslim ataupun berbeda agama.

Marilah kita menjaga diri kita dari apa-apa yang dapat merusak amal ibadah kita, kita harus mengevaluasi diri agar ketika menghadap Allah kita membawa pahala tanpa di iringi dosa sehingga semua amal baik yang kita kerjakan dapat kita nikmati dimasa mendatang (Akhirat).

Semoga “Pengertian Evaluasi Adalah?… Evaluasi Diri Dalam Islam” ini bermanfaat dan menjadikan kita orang yang senantiasa selalu mengevakuasi diri, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Silahkan komentar untuk memberikan kritik dan saran yang membangun. Terima kasih dan salam pelajar.

Baca juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here