Kisah Umar Bin Khattab Sebelum Dan Sesudah Masuk ISLAM

481

Kisah Umar Bin Khattab Sebelum Dan Sesudah Masuk ISLAM

Kisah Umar Bin Khattab Sebelum Dan Sesudah Masuk ISLAM – Dalam hidup ini kita senantiasa mengambil ‘itibar, contoh dan tauladan dari orang-orang sebelum kita. Itu sebabnya kepada baginda nabi Muhammad SAW, Allah SWT menjelaskan cerita nabi sebelum beliau.

Demikianlah Kami ceritakan kepadamu wahai Muhammad sebagian kisah dari Rasul-Rasul sebelum kamu, yang dengan itu akan memperkuat hatimu, meneguhkan keyakinanmu, dan memantapkan pendirianmu”.

Inilah manfaatnya belajar dari sejarah.

Jadi,,, Jangankan kita, baginda Nabi sendiripun diceritakan oleh Allah SWT sejarah nabi sebelum beliau.

  • Ada yang dimusuhi oleh umatnya.
  • Ada yang dicaci maki oleh kaumnya.
  • Ada yang terusir dari kampung halamannya.
  • Bahkan ada yang sampai terbunuh oleh umatnya sendiri.

Itu semua merupakan ‘itibar (Pelajaran) “Untuk memantapkan langkahmu, meneguhkan keyakinanmu dan menguatkan pendirianmu menghadapi perjuangan hidup ini” kata Allah.

Sehubungan dengan itu, pada pertemuan kali ini Al-Fakir akan ingin menyampaikan satu cuplikan kecil dari kehidupan seorang sahabat utama baginda nabi yaitu Saiyidina Umar Bin Khattab RA.

Berikut daftar kisah Umar Bin Khattab yang akan dibahas:

  • Kisah Umar Bin Khattab sebelum masuk islam
  • Kisah Umar Bin Khattab : Sejarah Umar masuk islam
  • Kisah Umar Bin Khattab Setelah Masuk Islam
  • Kisah Umar Bin Khattab : Saran untuk dakwa terbuka
  • Kisah Umar Bin Khattab : Menutupi dosa dengan ibadah
  • Kisah Umar Bin Khattab : Cinta Pada Rasul
  • Kisah Umar Bin Khattab : Watak ang tidak ambisius
  • Kisah Umar Bin Khattab setelah menjadi khalifah
  • Kisah Umar Bin Khattab : Tegas terhadap keluarga
  • Kisah Umar Bin Khattab : Kehati-hatian Umar
  • Kisah Umar Bin Khattab : Menegur ‘Amr Bin Ash
  • Kisah Umar Bin Khattab : Tidak Mau Dinaikkan Honornya
  • Kisah Umar Bin Khattab : Tidak Memandang Jabatan
  • Kisah Umar Bin Khattab : Menolak Anaknya Dijadikan Gubernur
  • Kisah Umar Bin Khattab : Menolak Upeti
  • Kisah Umar Bin Khattab : Memikul Beras

Kisah Umar Bin Khattab sebelum masuk islam

Kisah Umar Bin Khattab sebelum masuk islam

Kisah Umar Bin Khattab : Sejarah Umar masuk islam

Beliau adalah Umar Bin Khattab Bin Nufain Bin ‘Abdil Uzza dari suku quraisy, golongan Bani Adhi.

Perawakannya tinggi, kekar dan gagah yang melambangkan sifatnya yang pemberani, tagas dan tidak pernah kenal takut pada siapapun.

Sebelum mendapat hidayah, Umar Bin Khattab termasuk orang yang berdiri di barisan orang-orang yang memusuhi islam.

Ia terperangkap dalam tradisi jahiliyah. Dimana ia gemar berperang dan bermabuk-mabukkan juga merupakan hal-hal yang pernah dilaksanakan dalam kehidupannya sebelum beliau masuk kedalam agama islam.

Oleh karena itu, dalam kehidupan beragama, hidayah merupakan sesuatu yang amat penting. Bagaimanapun banyaknya dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan oleh seseorang maka tidak seharusnya membuat ia putus asa dari rahmat Allah SWT.

Sebaliknya,,, Bagaimanapun banyaknya amal kebaikan yang sudah diperbuatnya maka tidak perlu membuat ia besar hati, puas dan bangga apalagi menjadi sombong karenanya.

Sebab kita belum tau bagaimana ujung dari perjalanan hidup kita ini sebagaimana kisah Umar Bin Khattab sebelum masuk islam.

Jika diamati, kisah Umar Bin Khattab masuk islampun termasuk kisah yang sangat menarik.

Pada suatu hari, dengan pedang terhunus Umar Bin Khattab menuju Darul Arqam (tempat nabi berkumpul dengan para sahabat waktu itu).

Melihat muka Umar Bin Khattab yang bringas, matanya yang nanar maka orang sudah menyangka dan mengerti bahwa akan terjadi pembunuhan.

Dalam perjalanan Darul Arqam, Umar Bin Khattab bertemu dengan Nu’aim Bin ‘Abdillah.

Nu’aim : “Ya Umar, mau kemana engkau?…”

Umar : “Mau membunuh itu, si murtad itu”

Nu’aim : “Si murtad yang mana?…”

Umar : “Yang mana lagi, itu yang memecah belah kita, yang menghina berhala-berhala kita, yang menjelek-jelekkan nenek moyang dan keturunan kita. Siapa lagi kalau bukan Muhammad?…”

Nu’aim : “Umar,,, gak salah engkau Umar?…”

Umar : “Tidak salah lagi”

Nu’aim : “Salah Umar”

Umar : “Salah kenapa?…”

Nu’aim : “Apa engkau tidak malu, engkau ingin pergi membunuh Muhammad sementara adikmu sendiri Fatimah adalah salah satu pengikut Muhammad”

Mendengar ini, yang pada awalnya Umar sudah marah maka jadi tambah marah. Orang lain ia musuhi, orang lain ia kejar-kejar, ini malah adiknya sendiri jadi pengikut  Muhammad.

Tidak jadi menuju ke Darul Arqam, Umar berangkat menuju rumah adiknya (Fatimah).

Adapun dirumah Fatimah, Fatimah sedang berkumpul dengan suaminya (Said Bin Zaid) dan sahabat (Khabbab Ibnul Arats). Mereka sedang membaca Suhuf (lembaran-lembaran Al-Qur’an karena pada masa itu Al-Qur’an belum di bukukan seperti sekarang ini).

Sesampai Umar di rumah Fatimah, Umar langsung menggedor-gedor pintu dor, dor, dor,,,,

“Siapa diluar” sahut dari dalam rumah Fatimah.

“Umar” sahut Umar dari luar.

Mendengar suaranya saja, sahabat yang bernama Khabbab Ibnul Arats sudah lari kebelakang pintu sambil memohon pertolongan Allah SWT.

Sedangkan Fatimah yang sedang memegang Suhuf, menyembunyikan Suhuf itu dibelakang bajunya.

Masuklah Umar ke rumah Fatimah.

  • Umar : “Fatimah?…”
  • Fatimah : “Ya”
  • Umar : “Apa benar berita yang saya dengar?…”
  • Fatimah : “Berita apa itu?…”
  • Umar : “Bahwa kau sudah masuk islam?…”
  • Fatimah : “Andai kata Muhammad memang benar, bagaimana?…”
  • Umar : “Sudahlah jangan berbelit-belit, kau benar masuk islam atau tidak?…”
  • Fatimah : “Ya”

Begitu mendengar kata “Ya” tangan Umar langsung melayang menampar muka adiknya sehingga mengalir darah Fatimah dari hidungnya.

Adapun suaminya (Said Bin Zaid) yang mencoba untuk melindungi istrinya, dipegang lehernya oleh Umar dan dibanting ke lantai dan diduduki dadanya.

Namun,,, Pada saat itu juga, suara kebenaran terpantul dari mulut Fatimah : “Umar,,, Apakah engkau memukul orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, apakah engkau menganiyaya seseorang yang terpanggil hatinya untuk mengikuti kebenaran, manusia macam apa engkau Umar…”

Umar ini memang orang keras, tapi hatinya mudah menerima kebenaran sehingga mendengar ucapan adiknya ini ia tercengung sejenak seraya berpikir :“Jika tidak karena keyakinan yang mantap, tidak mungkin adik saya bicara seperti ini padahal sedang berhadapan dengan ketakutan”.

Siapa orang quraisy yang tidak takut berhadapat dengan Umar Bin Khattab yang dikenal sebagai Jawara Singa Padang Pasir waktu itu.

Pada zaman jahiliyah itu, ada sebuah pasar yang bernama pasar Ukaz, setiap tahun dipasar itu diadakan pesta dan perlombaan seperti perlombaan syair, perlombaan balap kuda, perlombaan memanah dan termasuk gulat (pertarungan).

Dan Umar ini, setiap pertarungan selalu menang, belum ada yang berhasil mengalahkannya.

Nah,,, Ketika mendengar ucapan adiknya yang dipenuhi dengan keyakinan itu, ditambah lagi pas adiknya berkata begitu, Suhuf yang disembunyikan di belakang bajunya tersembul.

  • Umar : “Apa yang kau sembunyikan dibalik bajumu itu”
  • Fatimah : “Suhuf”
  • Umar : “Apa Suhuf itu?…”
  • Fatimah : “Lembaran Al-Qur’an”
  • Umar : “Coba saya liat”
  • Fatimah : “Tidak boleh”
  • Umar : “Kenapa?…”
  • Fatimah : “Kamu kotor, orang kotor tidak boleh memegang Qur’an”
  • Umar : “Saya mau liat”
  • Fatimah : “Tidak boleh, kalau kamu mau liat, mandi dulu”

Diturutinya permintaan adiknya itu, dan diambilnya Suhuf tadi dan dibacanya. Dan kebetulan ayat yang dibacanya adalah ayat pertama dari surah Thoha yang berlanjut ayat 14 pada surah yang sama.

Thoha ayat 1 yang artinya : “Thoha, tidaklah Aku turunkan Al-Qur’an ini untuk membuat sukar manusia melainkan merupakan pengingat bagi orang-orang yang takut kepada Allah”.

Thoha ayat 14 yang artinya : “Sesungguhnya Akulah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka hendaknya hanya kepada-Ku lah kamu menyembah”, “Dirikanlah sholat untuk mengingat Aku”, “Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang yang sengaja waktunya tidak Kami beritahukan kepada kamu semua untuk Kami balas segala perbuatan yang sudah dikerjakan dalam kehidupan didunia ini”.

Setelah membaca ayat ini, gemetar tangan Umar seraya berpikir “Ah ini sih tidak main-main, belum pernah saya baca ajaran seperti ini, tidak patut orang yang mempunyai kitab suci seperti ini dimusuhi, ini sesuatu yang benar”, tergetar jiwa Umar.

  • Umar : “Hai Fatimah, dimana Muhammad berada?…”
  • Fatimah : “Saya tidak akan memberi tahu engkau Umar”
  • Umar : “Dimana?…”
  • Fatimah : “Saya tidak akan memberi tahu engkau Umar, lebih baik engkau bunuh saya jika memang maksudmu ingin mencelakai Muhammad”
  • Umar : “Sama sekali saya tidak akan mencelakai Muhammad wahai Fatimah, beritahu saya dimana Muhammad?…”
  • Fatimah : “Darul Arqam”

Mendengar ini, bergegaslah Umar menuju Darul Arqam.

Didalam (Darul Arqam) nabi memang sedang berkumpul dengan para sahabat, termasuk Saidina Hamzah yang terkenal sebagai Jawara seperti Umar.

Ketika sampai di Darul Arqam, Umar langsung mengetuk pintu tok, tok, tok…

“Siapa diluar?…” sahut dari dalam

“Umar” jawaban dari Umar dari luar.

Mendengar suaranya, sebagian para sahabat yang ada didalam geger. Tetapi baginda Nabi menenangkan sebagian para sahabat “Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya”.

Saidina Hamzah tampil, “Bukakan dia pintu, jika niatnya baik maka kita terima tapi jika niatnya tidak baik maka saya (kata Saidina Hamzah) paling depan”.

Ketika dibukakan pintu, Umar masuk dan langsung merangkul Nabi kemudian dengan nada tersendat ia mengucap “ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNAKA YA MUHAMMAD RASULULLAH” yang artinya “Saya bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya bersaksi bahwa engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah”.

Mendengar ini, seluruh sahabat bertakbir “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar”, kegembiraan menyelimuti suasana saat itu.

Karena apa?…

Karena sebelumnya dikala Umar belum masuk islam, ia merupakan ganjalan yang paling dikhawatirkan oleh umat islam.

Maka setelah ia masuk islam, jelas sekali sebuah keuntungan yang sangat besar.

Dan ia tertarik dengan islam bukan karena bujuk rayu orang, tidak karena diberikan harta, tidak karena di iming-imingi kedudukan tinggi tapi karena kebenaran dan hidayah yang menembus hatinya melalui wasilah ayat dalam surah Thoha yang dibacanya melalui Suhuf yang dipegang adiknya tadi.

Itulah kisah Umar Bin Khattab sebelum dan ketika masuk islam. Lantas bagaimana kisah Umar setelah masuk islam?…

Baca juga :

Kisah Umar Bin Khattab Setelah Masuk Islam

Kisah Umar Bin Khattab Setelah Masuk Islam

Kisah Umar Bin Khattab : Saran untuk dakwa terbuka

Sejak saat itu (masuk islam), ia berubah 180 derajat menjadi Umar Bin Khattab RA tetapi tetap dengan sifatnya yang keras, tegas dan tidak pernah takut pada siapapun.

Cuma sebelum islam, ia kerasnya kepada islam. Tapi setelah ia masuk islam maka muter arah, kepada siapapun yang memusuhi islam ia bersikap keras, tegas dan tidak pernah kenal takut.

Bahkan setelah masuk islam, suatu hari ketika di Darul Arqam sedang berkumpul-kumpul dengan Rasul dan para sahabat yang lain, Nabi masih berdakwa secara tersembunyi (tidak terbuka) karena pengikut masih sedikit.

Saidina Umar memberikan usul:

Umar : “Ya Rasul”

Rasul : “Ada apa Umar?…”

Umar : “Bukankah kita ini berdiri di atas sesuatu yang benar, bukankah hidup dan mati kita untuk melaksanakan sesuatu yang benar?…”

Rasul : “Betul ya Umar, demi Allah Umar, sesungguhnya kamu dan kita semua berdiri diatas kebenaran, hidup ataupun mati”

Setelah mendengarkan ini, Umarpun masuk ke tujuan pembicaraannya.

Umar : “Kalau memang begitu ya Rasul, kalau memang kita yakin berdiri diatas kebenaran, kita hidup karena kebenaran dan kita matipun memperjuangkan kebenaran, kenapa mesti sembunyi-sembunyi?…”

“Tuan harus menyampai islam ini secara terbuka dan kami akan mendampingi Tuan dengan dengan segenap jiwa dan raga”

Sekali Umar masuk islam tidak tanggung-tanggung, seluruh jiwa dan raganya masuk islam. Umar Bin Khattab lah yang pertama kali mengajukan ide untuk dakwah terangan-terangan.

Bahkan setiap tempat-tempat maksiat yang pernah ia kunjungi dan ia pernah kelakukan maksiat di tempat tersebut maka ia kunjungi dan ia tutupi tempat tersebut dengan kebaikan dan kebajikan.

Hingga ia berkata “Tidak ada tempat yang pernah saya melakukan kesalahan sebelum saya islam yang harus saya tutupi dengan kebajikan setelah saya islam seperti sekarang ini”.

Bahkan ada satu riwayat menjelaskan bahwa, Umar yang tinggi badannya, kekar perawakannya, yang membuat gemetar setiap orang yang menghadapinya tapi beliau sendiri sangat mudah gemetar saat mendengar ayat-ayat Allah.

Sehingga ada satu riwayat yang menjelaskan, Saidina Umar itu setelah masuk islam dan ketika sholat, menoleh (saat salam) kekanan beliau tersenyum dan menoleh kekiri beliau menangis berlinang air mata.

Ada orang bertanya, “Ya Umar, kenapa saat engkau menoleh kekanan engkau tersenyum dan ketika menoleh kekiri engkau menangis?…”.

Umar : “Itulah kalau saya ingat jahilnya saya sebelum masuk islam, ketika saya menoleh kenan saya tersenyum teringat ketika saya membuat berhala dari qurma, saya tumpuk-tumpuk dan saya susun begitu rupa, setelah saya sembah lalu saya makan itu qurma. Gagah betul saya waktu itu sampai-sampai Tuhan pun saya makan”.

“Adapun saat menoleh kekiri terangat puteri kesayangan saya yang terbawa tradisi jahiliyah. Takut menanggung aib dan merasa malu mempunyai anak perempuan hingga terpaksa ia terkubur hidup-hidup, berurai air mata saya mengingat semua itu”.

Padahal Nabi sudah memberikan jaminan bahwa saat Umar masuk islam maka dosa-dosa sebelumnya ia islam maka dihapuskan.

Ketika ia masuk islam maka ia sama seperti bayi yang baru lahir, bersih tanpa dosa.

Kisah Umar Bin Khattab : Menutupi dosa dengan ibadah

Begitulah,,, Seluruh kesalahan pada saat ia sebelum masuk islam berusaha ia tutupi dan ia tebus dengan segala kebaikan, pengabdian, perbuatan sholeh setelah ia masuk islam.

Bukankah Nabi mengajarkan kepada kita “Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada”,

Jadi,,, Taqwa tidak kenal tempat, kapanpun dan dimanapun kita harus bertaqwa. Dirumah taqwa, dipasar taqwa, dikantor taqwa, ditengah orang banyak taqwa, pada waktu sendirian taqwa dan termasuk ditempat maksiat kita juga harus bertaqwa dengan cara menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat ditempat tersebut.

Jangan sampai kita bertaqwa pada tempat-tempat tertentu saja,

  • Dimasjid taqwa tapi dikantor nyogok.
  • Pada bulan puasa taqwa setelah puasa merdeka memperturutkan hawa nafsu.

“Dan iringi perbuatan salah dengan kebaikan” kata Nabi.

Dan apabila kita melakukan sebuah kesalahan, baik disengaja atau tidak maka sebaiknya kita harus melakukan kebaikan dengan harapan kebaikan yang kita kerjakan akan menutupi dosa yang terselit kita lakukan.

Ketika membicarakan orang,,, cepat istighfar dengan harapan istighfar dapat menghapus dosa karena ngomongin orang.

Tapi jangan sampai tambal sulam, ngomongin orang lalu istighfar, ngomongin orang lalu istighfar, ngomongin orang lalu istighfar. Berbuat dosa tapi tidak berupaya menghentikan dosa tersebut.

Hal ini juga tidak benar, karena terlihat seperti mempermainkan agama. Dan bukan begitu yang dilakukan Umar Bin Khattab.

  • Barangkali terselip pernah mengambil harta orang lain tanpa alasan yang hak maka imbangi dengan rajin sedekah misalnya.
  • Barangkali pernah menyakiti hati orang maka imbangi dengan perbuatan yang menyenangkan hati orang lain.

Itu namanya mengiringi perbuatan yang bersifat salah dengan kebajikan, dan ini yang dilakukan oleh Saidina Umar Bin Khattab RA, keperkasaannya, kegagahannya, keberaniannya, semuanya bulat-bulat ia masukkan kedalam islam.

“Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik karena dengan ini kau bisa mengambil hati orang” kata Nabi.

Dalam hadis lain dikatakan “Kamu tidak akan bisa menyenangkan orang banyak dengan hartamu, tapi kamu bisa ambil hati mereka dengan budi pekerti yang luhur dan muka yang manis”.

Kisah Umar Bin Khattab : Cinta Pada Rasul

Cintanya Umar kepada baginda Nabi sangat luar biasa. Dalam setiap pertempuran Umar selalu berada pada barisan paling depan untuk membela Islam.

Bahkan sakin cinta dan sayangnya Umar kepada Nabi, ketika Nabi meninggal dunia. Disampaikan berita wafatnya Nabi kepada Umar maka beliau marah dan tidak menerima kenyataan bahwa Nabi sudah wafat.

“Ya Umar, baginda Nabi sudah wafat”

“Kamu ngomong apa?…”

“Baginda Nabi sudah wafat”

Bukan malah sedit tapi malah nyabut pedang dengan raut wajah yang sedang marah, “Siapa yang menyebutkan Muhammad wafat maka saya tebas batang lehernya”. Begitu cintahnya beliau kepada Nabi hingga beliau tidak dapat menerima kalau Nabi sudah wafat.

Tarulah tidak bisa mati bersamaan, bolehlah mati beriring-iringan saja barang kali menurut Umar.

Umar mencabut pedang dan berkeliling “Barang siapa yang menyebutkan Muhammad meninggal maka saya tebas batang lehernya”.

Hingga Umar bertemu dengan Saidina Abu Bakar di tengah keramaian, dan dikala itu Saidina Abu Bakar yang bijaksana berpidato “Wahai manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad maka Muhammad sudah wafat. Akan tetapi barang siapa yang menyembah Allah, Allah akan hidup selamanya dan tidak akan pernah wafat”.

Mendengar pidato ini lalu Saidina Umar sadar bahwa sebenarnya yang tidak bisa wafat itu cuma Allah.

Bagaimanapun agungnya baginda Nabi, besarnya baginda Nabi, tinggi akhlak budi pekertinya Nabi, cintanya beliau kepada Nabi, toh Nabi hanya manusia dan setiap manusia harus meninggal dunia.

Kemudian dibacakan surah Ali-Imran ayat 144 yang artinya “Muhammad tidak lain dari pada manusia, telah datang kepadanya Rasul. Apakah jika ia wafat engkau kembali menjadi murtad atau mundur ke belakang”.

Mendengar ayat ini dibacakan, Saidina Umar sadar dan berurai air mata, menangis dalam kesedihannya. Inilah cintanya yang begitu tinggi dan dalam kapada baginda Rasulullah SAW.

Kisah Umar Bin Khattab : Watak ang tidak ambisius

Setelah baginda Rasul wafat dan ketika berkumpul Saidina Abu Bakar pernah berkata pada Saidina Umar:

  • Abu Bakar : “Ya Umar, saya baiat kamu untuk menjadi seorang khalifah”
  • Umar : “Sayalah yang akan membaiat tuan untuk menjadi khalifah”
  • Abu Bakar : “Tapi engkau lebih utama dari saya Umar,,,”
  • Umar : “Keutamaan saya akan saya berikan kepada tuan untuk mendukung ke khalifahan tuan”.

Disini terlihat watak Umar yang tidak ambisius untuk memperoleh jabatan. Ia gagah, berani, perkasa tapi tau diri dan tidak nyelonong.

Ia tidak menggunakan kekuasaannya dan kegagahannya untuk maksud yang sewenang-wenang.

Oleh karena itu setelah Abu Bakar wafat dan ia dilantik menjadi seorang khalifah, maka keluarlah pidatonya yang terkenal:

“Hai manusia, aku telah dipilih menjadi pemimpin kamu padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kamu. Kalau tidaklah aku melihat keutamaan, keteguhan yang dapat melindungi kalian maka berat rasanya aku memikul amanah ini sebab alangkah beratnya menunggu masa perhitungan kelak terhadap umar”.

Inilah yang menjadi motifnya memegang jabatan ke khalifahan pada masa itu.

Sungguh berat bagi Umar menunggu saat datangnya masa perhitungan sehingga seolah-olah kalau bisa jadi Umar Bin Khattab saja, jangan jadi khalifah.

Tapi ya bagaimana, itu adalah pilihan umat islam masa itu.

Sehingga benar dalam satu hadis Nabi mengajarkan “Jangan memberikan suatu jabatan pada orang yang memintanya”.

Sebab orang kalau sudah minta jabatan, apalagi pakai jilat sana sini, apalagi pakai upeti-upeti maka pasti ada tendensinya, ada ambisinya yang ingin ia capai, ada timbal balik dari apa yang ia keluarkan.

Baca juga :

Kisah Umar Bin Khattab setelah menjadi khalifah

Kisah Umar Bin Khattab setelah menjadi khalifah

Kisah Umar Bin Khattab : Tegas terhadap keluarga

Setelah menjadi khalifah, kedudukan keluarga Umar Bin Khattab bukan merupakan kedudukan yang istimewa.

Itu ditanamkan betul didalam keluarganya.

“Jangan mentang-mentang bapakmu khalifah, mentang-mentang anak khalifah lantas engkau mendapatkan fasilitas lebih dari pada yang lain, merasa bisa berbuat semau-maunya saja. Kau harus punya tanggung jawab dan beban moril serta memberikan contoh yang baik kepada rakyat”, inilah yang ditekankan kepada keluarganya.

Kalau beliau mau mengeluarkan undang-undang maka undang-undang tersebut dibicarakan di tengah-tengah keluarganya dan anak-anaknya.

“Ini akan ada undang-undang baru, siapa yang mau mentaati persilahkan dan yang tidakpun silahkan. Tapi saya ingatkan kalau ada keluarga dari Umar yang melanggar peraturan yang saya keluarkan ini, maka saya akan menghukumnya 2 kali lipat karena dia keluarga Umar”.

Menghukumnya 2 kali lipat karena ia keluarga Umar, jadi bukan mentang-mentang pemimpin lalu kebal hukum.

Dengan ketegasan hukum inilah sehingga membuat beliau berwibawa.

Kisah Umar Bin Khattab : Kehati-hatian Umar

Pernah suatu hari Umar jalan-jalan kerumah anaknya Abdullah Bin Umar, ketika masuk dilihatnya Abdullah Bin Umar sedang makan daging.

Melihat Abdullah Bin Umar makan daging tersebut maka merah muka beliau, “Mentang-mentang anak khalifah, mentang-mentang anak pemimpin, mentang-mentang anak Amirul Mukminin ya kamu makan daging. Liat itu rakyat kita, masih banyak yang kelaparan dan hanya memakan roti kering”.

Padahal yang dimakan Abdullah Bin Umar itu halal, sesuatu yang diperoleh dari usahanya sendiri.

Tetapi begitulah hati-hatinya Umar untuk menjaga pandangan orang banyak. Keluarga khalifah menjadi beban moril sebab akan dijadikan contoh oleh rakyatnya.

Dan ketika beliau pergi ke sebuah pasar, beliau melihat ada sapi gemuk-gemuk tapi tempat lain sapinya kurus-kurus.

Lalu Umar bertanya

“Ini yang gemuk-gemuk sapi siapa?…”

“Sapi Abdullah Bin Umar”

“Panggil Abdullah Bin Umar suruh kemari”, dan datanglah anaknya.

Umar : “Abdullah Bin Umar, bagaimana ceritanya sapi ini?…”

Abdullah : “Begini abah, dahulu itu saya beli sapi dengan uang saya. Saat itu sapinya kurus-kurus lalu saya rawat, saya berikah upah kepada orang untuk merawat sapi itu hingga sekarang ia menjadi gemuk. Akan saya jual dan keuntungannya tentu sesuatu yang halal”.

Umar : “Subhanallah, kau ini anak Amirul Mukminin. Jual sapimu, ambil modalnya dan keuntungannya masukkan ke Baitul Mal untuk mengurus kepentingan orang islam”.

Dan pada suatu saat lain, waktu pembagian harta ghanimah. Putri beliau yang bernama Khafsah (anak Umar dan sekaligus istri Nabi) meminta bagian “Ayah, kita ini kerabat khalifah, kitalah dulu mendapatkan bagian”.

Apa kata Umar?…

“Kalau kau kerabatku (khalifah), maka jatahmu nanti dari ayahmu. Adapun harta ini masih banyak dibutuhkan oleh orang-orang islam. Bagianmu nanti belakangan, kalau ada sisanya”.

Belakangan,,,, dan itupun kalau ada sisanya, sangat terlihat jelas sekali betapa tegas dan hati-hatinya seorang Umar Bin Khattab menjadi seorang khalifah.

Ia tidak mau keluarganya menjadi semena-mena memanfaatkan jabatan yang sedang ka duduki. Itulah sifat Umar kepada keluarganya.

Dan beliaulah satu-satunya khalifah Amirul Mukminin (setingkat presiden) yang punya jibah cuma 2, dan yang satunya itupun punya anaknya, tambelan pula.

Pernah ketika sholat jum’at beliau terlambat, beliau naik mimbar untuk khutbah. Tapi sebelumnya beliau minta maaf dulu “Saudara-saudara saya minta maaf terlambat karena nunggui baju kering”.

Bisa dibayangkan seorang khalifah nunggin baju kering, betapa sederhananya beliau dalam kehidupannya.

Kisah Umar Bin Khattab : Menegur ‘Amr Bin Ash

Pada saat beliau menjadi seorang khalifah dan yang diangkat menjadi gubernur di Mesir adalah ‘Amr Bin Ash. ‘Amr Bin Ash hidupnya lebih mirip kaisar, istananya besar, pakaiannya bagus-bagus.

Dan yang paling mengganggu pikiran ‘Amr Bin Ash adalah tepat disebelah istananya ada sebuah gubuk reot kepunyaan yahudi.

“Ah tidak pantas betul, masa di sebelah istana ada gubuk reot, orang yahudi lagi yang punya” pikir ‘Amr Bin Ash.

“Ah,,, Sudah,,, Buat aja rencana, panggil dinas tata kota dan bikin planning untuk bangun masjid untuk menjadi proyek Negara”.

Setelah itu si yahudi yang punya gubuk reot tersebut dipanggil. “Sebentar lagi akan dibangun sebuah masjid dan pembangunan akan terkena tanah serta rumahmu. Oleh karena itu, rumah dan tanahmu akan diganti rugi”.

Tapi si yahudi tersebut menolak untuk diganti rugi, ia tetap bersikukuh ingin berada ditanah dan rumah yang sudah dibangunnya meskipun cuma gubuk reot.

Karena si yahudi tidak ingin tanahnya dibebaskan maka ‘Amr Bin Ash menggusur bangunan tersebut secara paksa.

Berurai air mata si yahudi tersebut “Beginilah menjadi rakyat kecil yang diperlakukan semena-mena oleh orang berkuasa”.

Tapi setelah dipikir-pikir, ‘Amr Bin Ash kan cuma gubernur saja, masih ada atasanya lagi yaitu khalifah.

Lapor ah lapor… Dan pergilah si yahudi tersebut ke Madinah untuk melaporkan perbuatan ‘Amr Bin Ash tersebut.

Sambil berjalan menuju Madinah, si yahudi ini berpikir sambil berharap-harap cemas “Kalau istana gubernurnya saja begitu mewah, apa lagi khalifahnya. Kalau gubernurnya saja galak main gusur, apalagi khalifahnya. Dan saya bukan orang islam, apa ditanggepin kalau ngadu”.

Sampai dipintu kota Madinah ia menjumpai orang yang sedang tidur dibawah pohon qurma.

  • “Selamat siang pak…”
  • “Ya, ada apa?…”
  • “Saya ingin melapor”
  • “Lapor apa?…”
  • “Bapak tau khalifah Umar Bin Khattab?…”
  • “Ya, tau”
  • “Istananya dimana pak?…”
  • “Istananya diatas lumpur”
  • “Diatas lumpur?…”
  • “Ya, diatas lumpur”
  • “Pengawalnya banyak pak?…”
  • “Banyak”
  • “Siapa pak?…”
  • “Yatim puatu, janda-janda tua, orang-orang miskin, orang-orang lemah itu pengawalnya”
  • “Pakaian kebesarannya apa pak?…”
  • “Pakaian kebesarnya adalah malu dan taqwa”
  • “Lalu orangnya dimana ya pak?…”
  • “Didepan kamu”

Ternyata yang ditanya, itulah orangnya (Umar Bin Khattab) yang ingin dijumpai si yahudi tadi itu.

Setelah mengetahui dialah Umar Bin Khattab maka gemetar si yahudi itu tadi, bercucuran keringatnya.

Coba kita bayangkan istananya diatas lumpur, sebab beliau berprinsip “Bagaimana saya menghayati, mengetahui nasib dan perasaan rakyat saya kalau saya tidak merasakan apa yang mereka rasakan. Bagaimana saya bisa tau rasanya lapar kalau saya belum pernah kelaparan”.

Umar : “Kamu dari mana”

Yahudi : “Dari Mesir”

Umar : “Mau apa?…”

Yahudi : “Mau laporan, bahwa gubernur bapak yang di Mesir bernama ‘Amr Bin Ash telah berbuat zolim kepada saya”.

Umar : “Bagaimana bisa?…”

Yahudi : “Saya mempunyai tanah dan gubuk, tanah tersebut terkena proyek pembangunan masjid tapi saya tidak mau menjual tanah tersebut maka ‘Amr Bin Ash menggusur gubuk tempat tinggal saya. Dan saya kesini ingin mencari keadilan”.

Umar : “Kamu liat tempat sampah itu, cari dan ambillah sebuah tulang (tulang onta) dan bawa kemari”.

Bingung si yahudi ini, dari Mesir berangkat ke Madinah ingin mencari keadilan malah disuruh cari tulang.

Setelah dicari dan didapatnya sebuah tulang, diberikannyalah kepada Umar. Dan tulang tersebut diberi garis lurus oleh Umar menggunakan pedangnya.

Dan si yahudi tersebut disuruh pulang ke Mesir dan menyerahkan tulang tersebut kepada ‘Amr Bin Ash.

Dan pulanglah si yahudi tersebut dengan rasa bingung dan bimbang.

Sesampainya di Mesir maka ia menghadap gubernur ‘Amr Bin Ash.

Yahudi : “Tuan gubernur”

‘Amr Bin Ash : “Ya, ada apa?…”

Yahudi : “Saya baru dari Madinah untuk menghadap khalifah”

‘Amr Bin Ash : “Kemudian?…”

Yahudi : “Beliau menitipkan tulang kepada saya untuk diberikan kepada tuan”

Ketika melihat tulang tersebut ‘Amr Bin Ash panik dan gemetaran, terdapat sebuah garis lurus yang dibuat dari ujung pedang Umar.

Setelah itu ‘Amr Bin Ash langsung memanggil kepala proyek dan membatalkan proyek pembangunan masjid di atas tanah si yahudi tersebut.

Dan ia menyuruh bawahannya untuk membangun kembali gubuk yahudi yang telah dirobohkan.

Melihat kejadian ini si yahudi semakin bingung, jauh-jauh dari Mesir ke Madinah dikasi tulang, setelah tulang disampaikan maka semua proyek dibatalkan.

Yahudi : “Ada apa sebenarnya tuan gubernur?…”

‘Amr Bin Ash : “Kamu tau tidak?… Ini adalah teguran dan nasehat pait untuk saya dari khalifah Umar Bin Khattab. Seolah-olah beliau berkata:…”

“Hai ‘Amr Bin Ash, jangan mentang-mentang sedang berkuasa kamu berlaku seenaknya saja. Pada suatu masa kamu akan menjadi tulang-tulang seperti ini, maka selagi kamu masih hidup dan berkuasa hendaknya berlaku adil dan luruslah kamu seperti lurusnya garis pada pedang ini, lurus, adil dan jangan bengkok. Sebab jika kau bengkok, maka aku yang akan meluruskan dengan pedangku (Umar Bin Khattab)”.

Melihat dan mendengar penjelasan ‘Amr Bin Ash maka terbukalah mata hati si yahudi tersebut bahwa islam benar-benar adil dalam menegakkan hukum.

Sehingga ia memutuskan untuk masuk islam dan memberikan tanah tersebut untuk dibangun masjid tanpa meminta uang ganti rugi.

Masuk islam si yahudi tersebut berkat keadilan dari Umar Bin Khattab.

Baca juga :

Kisah Umar Bin Khattab : Tidak Mau Dinaikkan Honornya

Dan pada suatu saat, pernah Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Tholib, Talhah dan Zubair berkumpul dan mendengar berita bahwa Saidina Umar mempunyai hutang.

Bisa dibayangkan, betapa sederhanya seorang Umar yang berkedudukan khalifah masa itu, untuk melangsungkan hidupnya mempunyai hutang padahal Baitul Mal dibawah kekuasaannya.

Berundinglah Usman, Ali, Talhah dan Zubair, lalu mereka ingin memberikan saran agar honor khalifah dinaikkan. Tapi jika ngomong langsung maka saran tersebut tidak akan diterima oleh Umar, sehingga mereka menyuruh Hafsah (Anak Umar dan sekaligus istri Nabi) untuk menyampaikan saran tersebut kepada Umar.

Hafsah : “Ayah,,,”

Umar : “Kenapa?…”

Hafsah : “Bagaimana kalau honor ayah ditambah, dinaikin dikit saja agar hutang dapat terlunasi”

Umar : “Hafsah”

Hafsah : “Saya ayah”

Umar : “Siapa yang menyruh kamu ngomong begitu?…”

Hafsah : “Tidak ada”

Umar : “Pasti ada,,, kalau tidak ada yang nyuruh, tidak mungkin kamu ngomong begitu. Tapi kalau saya tuntu orangnya pasti tidak mau, sekarang saya ingin bertanya Hafsah, kaukan seorang istri Rasul?…”

Hafsah : “Betul”

Umar : “Nah,,, Saya ingin tanya, suamimu makanannya apa?… Dagingkah?…”

Hafsah : “Bukan, makanannya hanya roti”

Umar : “Tempat tidurnya apakah kasur empuk?…”

Hafsah : “Bukan, tempat tidurnya hanya kain kasar yang pada musim panas dibentangkan dan ketika musim dingan, separu untuk tidur dan separu untuk selimut”

Umar : “Pakaian yang diberikannya untukmu berapa banyak?…”

Hafsah : “Hanya 2”

Umar : “Nah itulah guru, orang yang paling saya cintai dan itulah yang saya ikuti”

Bahkan setelah beliau wafat (Umar Bin Khattab) maka seluruh hutangnya ditangguhkan kepada anaknya Abdullah Bin Umar dan itupun dilunasi dengan menjual rumahnya.

Sehingga rumah tersebut Darul Qada’ (Rumah Bayar Hutang).

Bagitulah kesederhanaannya seorang Umar Bin Khattab.

Lantas,,, Kenapa sikap kesederhanaannya timbul?…

Karena sifat zuhudnya.

Zuhud adalah sifat seseorang yang mengambil dunia hanya yang diperlukan dengan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Watak zuhudnya yang sangat menonjol.

Ialah pahlawan yang paling berani dimedan perang.

Ialah imam yang paling khusyuk dimasjid.

Bahkan ketika sholat seorang diri dan membaca ayat tentang neraka maka beliau menangis dan mengeluarkan air mata.

Jadi penerapan zuhud ini bukan diadakan lewat sebuah teori, sebuah penataran, malainkan dari sebuah contoh konkrit dalam kehidupan sehari-hari seorang Umar Bin Khattab.

Kisah Umar Bin Khattab : Tidak Memandang Jabatan

Jika biacara soal hukum, Umar tidak pernah kenal kompromi, ia memperlakukan seluruh warganya sama dimata hukum. Baik itu muslim ataupun non muslim.

Ada seorang pemuka nasrani masuk islam yang bernama Jabalah Bin Aiham (Tokoh terkemuka nasrani yang sudah masuk islam). Ketika ia berangkat haji, kain ihramnya keinjak orang arab yang hitam (Badui). Kasal, karena ia merasa seorang yang terpandang lalu ditempelengnya orang badui tersebut.

Setelah itu orang badui tersebut melapor kepada Umar, setelah itu Umar mengklarifikasi dan kedapatan Jabalah Bin Aiham bersalah, maka dipersilahkan orang badui tersebut membalas tamparan Jabalah Bin Aiham dihadapannya (Umar) saat itu juga.

Dari sini terlihat sekali bagaimana seorang Umar berlaku adil kepada setiap warganya, ia tidak memandang Jabalah Bin Aiham sebagai orang terhormat tapi ia memandang semua warganya adalah sama.

Berbeda sekali dengan kehidupan kita sekarang ini, sering kali kita dapati kebijakan yang tidak bijaksana karena memandang tingginya jabatan dan kehormatan seseorang.

Kisah Umar Bin Khattab : Menolak Anaknya Dijadikan Gubernur

Pernah suatu ketika Umar bermusyawarah

“Saya bingung”

“Kenapa khalifah”

“Sulit mencari gubernur Kufah, diangkat yang lemah rakyat ngeluh tapi diangkat yang keras, rakyat juga ngeluh”

“Ada calon khalifah, kalo ini sih sudah tidak salah lagi”

“Siapa?…”

“Abdullah Bin Umar” (anak beliau sendiri)

“Jangan macam-macam, cukup 1 orang Umar yang memegang jabatan. Kalau berhasil, kami keluarga Umar sudah merasakannya. Tapi kalau gagal, maka cukuplah kegagalan seorang Umar saja. Cari yang lain saja”

“Tapi Abdullah Bin Umar cukup syarat ya khalifah, dia orang bertaqwa dan sholeh”

“Yang bertaqwa dan sholeh bukan cuma anak dia, anak orang lain juga banyak yang bertaqwa dan sholeh”

Sikapnya yang memblokir keluarganya dari berbagai fasilitas kekhalifahannya membuat orang lain segan pada dirinya. Betapa tegas, adil dan bijaksananya beliau.

Kisah Umar Bin Khattab : Menolak Upeti

Pada suatu hari, pernah ada seorang pejabat dari Azer Bayen mengirim makanan kue kepada Umar Bin Khattab.

Ketika dicicipi Umar:

“Enak ya kue ini”

“Terima kasih ya khalifah”

“Ini disana apakah makanan rakyat biasa”

“Bukan ya khalifah, ini makanan orang-orang elit”

Mendengar bahwa itu adalah makanan orang-orang elit, lalu dibungkusnya lagi kue tersebut dan disuruh bawa pulang dan serahkan kembali pada gubernur disana. Beri tau gubernur disana “Salam dari Umar Bin Khattab, kenyangkan dulu rakyat disana dengan makanan seperti ini, kita belakangan”.

“Jadi,,, jika rakyat lapar, biarlah saya (Umar) yang pertama merasakan kelaparan. Tapi kalau rakyat makmur, biarlah saya yang terakhir menjadi orang yang kenyang”.

Sikap seperti inilah yang menjadikan sebuah hukum berwibawa.

Bukan malah sebaliknya, jika rakyat lapar maka kita orang yang belakangan kelapran dan ketika rakyat makmur kita orang pertama yang kenyang.

Kisah Umar Bin Khattab : Memikul Beras

Pernah suatu hari,,, beliau bersama Aslam jalan-jalan di lorong kota Madinah, ditempat yang bernama Harah.

Beliau melihat seorang ibu-ibu yang anaknya mengis kelaparan, sang ibu-ibu tersebut menyabarkan anaknya sambil merebus sesuatu seraya berkata “Sabar-sabar sebentar lagi masak”.

Dan Umar memperhatikan ibu tersebut dari kejauhan, diperhatikannya rebusan ibu tersebut tidak masak-masak. Dari mulai anak menangis, lapar, capek menangis dan tertidur karena tidak masak-masak.

Ketika anaknya tertidur, Umar menghampiri ibu tersebut dan bertanya

  • Umar : “Ibu masak apa?… Kok tidak masak-masak”
  • Si ibu : “Saya tidak masak apa-apa tuan”
  • Umar : “Lah itu grubuk-grubuk air mendidih apaan?…”
  • Si ibu : “Tidak ada apa-apa tuan” dan ketika dibukakan rebusan tersebut ternyata cuma air, tidak ada isinya.
  • Umar : “Subhanallah ibu, ibu telah membohongi anak ibu sendiri”
  • Si ibu : “Habis harus bagaimana tuan, saya sudah tidak ada makanan untuk dimasak sementara perut tidak kenal kompromi. Jalan satu-satunya ya terpaksa anak saya harus saya bohongi dengan bilang sebentar lagi masak hingga ia tidur”.
  • Umar : “Memangnya gimana sih Umar mengurus rakyatnya?…”
  • Si ibu : “Subhanallah, ia orang zolim. Ia memegang urusan kami tapi ia tidak tau bagaimana nasip kami, anak kelaparan dan keluarga terlantar”
  • Umar : “Ohhh begitu”
  • Si ibu : “Iya… Zolim betul Umar Bin Khattab itu”
  • Umar : “Kalau begitu ibu tunggu sebentar”

Ia pulang bersama Aslam menuju Baitul Mal, dia ambil tepung 1 karung dan dipikulnya sendiri.

  • Aslam : “Ya khalifah, biar saya yang pikul”
  • Umar : “Jangan”
  • Aslam : “Kenapa ya khalifah?…”
  • Umar : “Apa kau kira sanggup memikul dosa saya diakhirat nanti?… Biar saya pikul sendiri”. Ia bawa tepung tersebut, ia masak sendiri tepung tersebut hingga masak dan ia hidangkan masakan tersebut kepada ibu-ibu tadi itu.
  • Si ibu : “Alhamdullah tuan, mudah-mudahan Allah memberkahi tuan. Tuan lebih baik dari Umar Bin Khattab yang zolim itu. Emangnya tuan sebenarnya siapa?…”
  • Umar : “Saya ya Umar Bin Khattab yang ibu katakan zolim itu”

Gemetar si ibu itu tadi, tapi memang Umar sangat peka dan menghargai kritik orang. Tidak lantas membungkan orang yang nadanya sumbang atau bertentangan dengan nama baiknya.

Kadang beliau berkata “Saya khawatir karena orang terlalu segan dengan saya lalu gak ada yang berani negur kalau saya salah”.

Eh tau-tau muncul seseorang yang berkata “Demi Allah, saya akan menegur tuan dengan pedang saya ini jika tuan salah”

Lalu tersenyumlah Umar seraya berkata “Alhamdulillah… Anak muda, saya memerlukan orang yang seperti engkau yang berani berkata YA terhadap yang benar dan berkata TIDAK terhadap yang salah, apa dan bagaimanapun resikonya”.

Dan tidak jarang Umar memberikan hadiah kepada orang yang memberikan kritik kepada dirinya. Bukan justru marah jika dikritik oleh orang lain.

Disini terlihat sikap beliau dalam menghargai orang yang berbeda pendapat.

Kesimpulan Kisah Umar Bin Khattab

Dari kisah Umar Bin Khattab diatas, terlihat sekali bagaimana sifat seorang Umar Bin Khattab:

  • Yang sederhana
  • Yang zuhud
  • Yang adil
  • Yang tegas
  • Yang bijaksana
  • Yang berhati-hati
  • Yang mementingkan orang banyak
  • Yang tidak memandang jabatan
  • Yang menghargai pendapat orang lain
  • Yang cinta kepada Rasul dan sifat-sifat baik lainnya.

Keadilan, keberanian, ketegasan dan cepat menerima kebenaran merupakan serentetan sifat-sifat utama beliau sejak masuk islam sampai menjadi seorang khalifah yang kedua.

Bahkan dengan jasa beliau, islam kemudia tersebar menembus dinding Jazirah Arabiyah, memasuki Bizantium dan Persia sehingga beliau juga dikenal sebagai periode Al-Futuhat Al-Islamiah.

Inilah cuplikan kecil “Kisah Umar Bin Khattab Sebelum Dan Sesudah Masuk ISLAM“, seorang sahabat yang agung dan mulia yang sangat terbatas kata-kata melukiskan kebesarannya.

Namun yang segelumit ini, mudah-mudahan menjadi sumbangan moril dalam rangka memperbaiki diri dalam menuju kehidupan yang lebih baik.

Terima kasih banyak atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala kekurangan. Salam pelajar.

Baca juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here