Memandang Islam dari Syaikh Siti Jenar

139

Pada zaman dahulu , di Kerajaan Demak Bintoro, tanah Jawa, Raden Patah yang merupakan keturunan Raja Majapahit Brawijaya V. Dikisahkan secara turun temurun, Raden Patah meruntuhkan kekuasaan Majapahit, kemudian beliau mendirikan kerajaan Demak Bintoro. Kemasyuran nama Wali Songo pada saat itu, dianggap sebagai penopang kekuasaan Demak Bintoro. Hingga akhirnya, kelanggengan ajaran-ajaran para sunan terusik oleh kearifan Syekh Siti Jenar dalam memahami islam. Maka, dari sinilah Syekh Siti Jenar berkisah.

Memandang Islam dari Syaikh Siti Jenar JPG

Menurut para pengikut setia Wali Songo, bahwa Syekh Siti Jenar dianggap menyimpang dari pemahaman islam yang hakiki sejak ia menyebarkan istilah “manunggaling kawulo lan Gusti” yaitu, “Bersatunya manusia dengan Allah”. Pada zaman itu, pemahaman Syekh Siti Jenar bertolak belakang dengan ajaran Wali Songo, dimana para sunan mengajarkan bahwa Allah adalah zat Maha Hakiki dan Maha Murni, yang tidak dapat disamakan bahkan dibaurkan dengan zat lainnya. Wali Songo menganggap bahwa hal ini bukan pertama kalinya Syekh Siti Jenar menyebarkan dakwah sesat.

Suatu hari, dalam dakwah syekh Siti Jenar, ia mengatakan bahwa, “semua manusia yang hidup di bumi ini adalah mayat. Semua hal yang dilakukan di bumi Allah ini adalah kesia-siaan belaka, karena kehidupan yang sesungguhnya dimulai setelah manusia tersebut menghadap kepada Allah.”

Akibat dari pernyataan beliau, kerajaan Demak Bintoro sempat digegerkan oleh meningkatnya maksiat. Syekh Siti Jenar pun mengutus salah satu muridnya untuk memanggil para pelaku maksiat tersebut. Ditanyainya satu per satu tentang alasan mereka membunuh, merampok, memperkosa, dan melakukan kemaksiatan lainnya.

Jelaslah sekarang, bahwa mereka melakukan hal tersebut semata-mata karena baik dosa maupun pahala di dunia ini adalah tidak bernilai. Dengan lembut dan penuh ketegasan Syekh Siti Jenar menuturkan pemahaman sebenarnya pada dakwah tempo hari. Dikatakannya, “kita semua ini memanglah mayat, dan kehidupan yang hakiki bermula setelah Sang Khalik mengambil kembali ruh kita. Namun, kita perlu membawa bekal untuk hidup di sana. Dan bekal tersebut adalah amal dan ibadah.” Dilanjutkannya lagi, “Maka beribadahlah kalian dengan khidmat, semata-mata karena kecintaanmu kepada Sang Khalik.”
Semenjak Syekh Siti Jenar meluruskan pemahaman para pengikutnya yang keliru tersebut, maka keteraturan di kerajaan Demak Bintoro pun mulai kembali. Akan tetapi, kecemasan para sunan semakin bertambah tatkala melihat padepokan Syekh Siti Jenar semakin ramai.Mereka tidak hanya kuatir terjadinya penyimpangan ilmu agama akibat sang syekh, melainkan juga kuatir akan terjadi perpecahan antar sesama umat islam.

Wali Songo pun mendiskusikan cara menghentikan penyebarluasan ajaran Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu, muncul ide untuk melibatkan kekuasaan Raden Patah. Ketika itu, Wali Songo menghadap sang Raja Demak Bintoro, “wahai pemegang tahta kerajaan Demak Bintoro, Raden Patah. Sudah sampaikah ketelinga Anda kisah Syekh Siti Jenar yang sesat dan dapat membahayakan keselamatan kerajaan Demak Bintoro, beserta rakyatnya?”

Wali Songo pun mulai menuturkan kisah penyebaran ajaran Syekh Siti Jenar. Akibatnya, Raden Patah jadi tergelitik hatinya untuk bertemu dengan Syekh Siti Jenar dan menyetujui usulan untuk merobohkan padepokan Syekh Siti Jenar hingga ke titik nadir. Maka, diutuslah Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat untuk membawa Syekh Siti Jenar menghadap Raden Patah. Namun, beliau menolak permintaan sang Raja.

Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat pun pulang tanpa Syekh Siti Jenar. Hal ini membuat Syekh Maulana Maghribi mengutus lima wali terkuat yaitu, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Geseng, dan Pangeran Modang, untuk membawa Syekh Siti Jenar ke istana Demak Bintoro baik hidup maupun mati. Dan, berangkatlah ke lima wali tersebut menemui Syekh Siti Jenar di padepokannya.

Sesampainya di sana, para wali meminta sang syekh untuk menghadap Raden Patah. Dan lagi-lagi, Syekh Siti Jenar bersikukuh pada pendiriannya. “Kalau begitu,” ujar Sunan Kalijaga, “aku terpaksa membawamu dengan tanganku sendiri.” “Silahkan,” jawab Syekh Siti Jenar dengan tersenyum ke arah Sunan Kalijaga, “cobalah semampumu.”

Dimulailah pertarungan ilmu kanuragan Sunan Kalijaga melawan Syekh Siti Jenar. Tetapi hasilnya bahwa Sunan Kalijaga yang saat itu merupakan sunan tersakti dan memiliki keilmuan tertinggi di antara jajaran para wali, tidak dapat mengalahkan Syekh Siti Jenar. Beliau pun mengakui, “aku sudah tidak sanggup melanjutkan pertarungan ini denganmu, kemampuanmu berada lima tingkat di atasku. Jika pertarungan ini tetap dilanjutkan, maka aku akan mati di padepokanmu ini.”

“Sudah.” Syekh Siti Jenar pun berdiri dari tempatnya bersila, “tidak perlu ada pertumpahan darah. Sesungguhnya, kematian tidaklah semenyakitkan seperti apa yang semua orang duga selama ini.”
Syekh Siti Jenar berjalan mendekati Sunan Kalijaga, “aku tidak akan menghadap Raden Patah, tapi aku juga tidak akan membiarkan terjadi pertumpahan darah antar sesama umat muslim.” Lanjutnya lagi, “biar aku tunjukkan kepadamu, kematian yang tidak ubahnya seperti engkau beranjak tidur.”

Di hadapan ke lima wali dan ke empat muridnya, Syekh Siti Jenar meletakkan satu jarinya di lekukan hidung dan di antara kedua mata, dan satu jari lagi di tengkuk. Tidak sampai sekejab mata, tubuh Syekh Siti Jenar ambruk dan meninggal dunia.

Tidak terbayang kesedihan ke empat murid Syekh Siti Jenar saat itu, sehingga mereka pun mengikuti kepergian gurunya dengan cara yang sama, seperti yang dilakukan Syekh Siti Jenar. Ke lima wali tercengang atas tindakan bunuh diri yang dilakukan Syekh Siti Jenar dan ke empat muridnya. Namun, mengingat perintah Syekh Maulana Maghribi untuk membawa Syekh Siti Jenar ke Istana Demak Bintoro, maka ke lima wali menopang jasad sang syekh beserta ke empat muridnya tersebut.

Sesampainya di sana, Wali Songo berembuk, “mau diapakan jasad mereka sekarang?”
“Ya sudah, kita pikirkan saja nanti.” Ujar salah satu wali, “lebih baik sekarang kita sholati dulu mereka sesuai tata cara islam.”
Jasad Syekh Siti Jenar dan ke empat muridnya dimandikan, kemudian disholatkan sesuai tata cara islam.

Setelahnya, para wali kembali berunding, hingga muncul ide dari salah satu sunan untuk menggantung mayat Syekh Siti Jenar di alun-alun kota, agar para pengikut ajaran sang syekh kembali ke ajaran Wali Songo.

Namun, tatkala malam tiba, terciumlah harum kesturi dari jasad Syekh Siti Jenar. Maka terkagumlah semua orang yang ada di ruangan tersebut, termasuk Wali Songo. Jasad sang syekh pun berkilauan bagai pualam.

“Kalau bukan karena umat Allah yang sepanjang hidup diridhai dan dicintai oleh-Nya, jasadnya tidak akan seharum dan semenakjubkan ini.”

Semakin cemaslah Wali Songo atas peristiwa tersebut. Jika kabar ini sampai tersiar ke telinga pada penganut ajaran Syekh Siti Jenar, maka semakin kuatlah keyakinan mereka dan itu pula artinya, penganut ajaran Syekh Siti Jenar akan terus bertambah. Entah ide dari mana, salah satu orang di ruangan itu mengusulkan untuk menukar jasad Syekh Siti Jenar yang akan digantung di alun-alun kota dengan mayat anjing yang paling kudisan, paling kurus, serta paling buruk hidup dan matinya, sedangkan jasad Syekh Siti Jenar dikuburkan di bawah mimbar Mesjid Demak.

Keesokan harinya, masyarakat kerajaan Demak Bintoro berkumpul di alun-alun, menyaksikan mayat anjing tergantung di pohon beringin besar dengan papan bergantung di leher, bertuliskan:
“Inilah jasad Syekh Siti Jenar, yang menyimpang dari ajaran Allah.“

Maka, demikianlah kisah Syekh Siti Jenar sesuai buku “Serat Syekh Siti Jenar” yang bertajuk “Islam Jawa”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here