Nasihat Nabi Khidir dalam Menyikapi Hidup

173

Berikut ini adalah kisah pertemuan seorang penjaga taman kota yang ada di Mesir dengan Nabi Khidir. Kisah ini diriwayatkan dari Hamdan bin Usamah dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mus’ir, dan Mu’n bin Abdurrahman bin Abdullah bIn Mas’ud, atas kisah ‘Aun bin Abdullah bin Atabah bin Mas’ud, menceritakan ada seorang laki-laki, tepatnya di negeri Mesir sedang bekerja di taman kota. Laki-laki itu bernama Ibn Zubair.

Saat itu, Zubair nampak sangat sedih. Hal itu terlihat dari wajahnya yang gelisah, bingung, dan suram. Nampak sekali, dirinya sedang memikirkan persoalan yang cukup berat. Karena begitu beratnya beban masalah yang dihadapinya sampai-sampai ia tak sadar telah memukul-mukul tanah dengan sesuatu benda di tangannya. Kesadarannya nampak tidak stabil. Ia tidak menghiraukan keadaan disekitarnya.

Sesekali ia tertunduk murung menghadap ke tanah. Dalam kesadaran yang labil itu, tiba-tiba datang sesosok lelaki tepat di depannya. Ia pun terkejut melihat ada seorang lelaki berdiri tepat di depannya itu. Kekagetannya menjadi semakin memuncak ketika tiba-tiba ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Belum sempat bertanya, lelaki itu sudah memulai betanya dahulu.

“Aku perhatikan dari tadi engkau terlihat sangat murung dan gelisah. Mengapa engkau terlihat sedih dan bingung? Apa yang terjadi padamu, hingga engkau nampak begitu sedih?”

Mendengar pertanyaan itu, lelaki tersebut pun menjawab sambil bertanya kembali. Meskipun jawabannya terkesan jauh dari pertanyaan Zubair. Lelaki yang diperkirakan Nabi Khidir itu terus berucap yang terkesan sebagai nasehat, “Adapun dunia, sebenarnya ia datang dan pergi. Ia habis dimakan oleh orang-orang baik dan orang-orang jahat.Di dalamnya juga tersimpan kesenangan yang sedikit dan masanya amat terbatas. Sebaliknya, seseungguhnya akhirat itu keagungan yang pasti, tempat Allah SWT memutuskan pengadilannya. Selain itu, di akhirat adalah tempat kesenangan yang sifatnya hakiki dan abadi.”

Mendengar nasehat tersebut, Zubair pun terheran-heran. Ia tertegun pada diri laki-laki tersebut dengan ucapannya.

Bagaimana mungkin dia bisa memberikan nasehat yang tidak mempunyai kaitan dengan persoalan yang dipikirkannya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Zubair pun memberanikan diri untuk berkata jujur, “Sebenarnya, aku merasa sedih dan gelisah karena sedang memikirkan kaum muslimin yang saat ini sedang dilanda persoalan.”
Mendengar penjelasan Zubair itu, lelaki yang kemudian hari diketahuinya sebagai Nabi Khidir itu kembali memberi semacam wejangan. “Sesungguhnya Allah SWT, akan membebaskanmu dari kemelaratan dan kesusahan lantaran engkau merasa simpati, dan peduli, dan ikut prihatin terhadap nasib kaum muslimin. Mintalah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Siapa pun diantara umat Islam yang meminta kepada-Nya, mustahil Dia tidak mengabulkannya.

Cobalah tanyakan, siapakah oranya yang meminta kepada Allah SWT, kemudian Allah SWT tidak mengabulkan permintaannya itu, dan siapa pula orang-orang yang doanya ditolak oleh Allah SWT? Dan juga siapa yang sudah bertawakkal kepada-Nya, lalu Dia membiarkan dan tidak melindunginya?”
Mendengar nasehat itu, Zubair segera bangkit seraya berucap, “Ya Allah, selamatkan aku dan para kaum Muslim sekalian dari bencana-bencana yang banyak menimpa berikanlah perlindungan kepada mereka semua. Tetapi siapakah engkau wahai saudaraku?”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah Khidir yang pernah kau dengar”. Selesai menjawab lelaki itu tiba-tiba lenyap dari hadapan Zubair. Kehadiran Khidir tersebut bukanlah suatu peristiwa yang baru. Nabi Khidir akan selalu menemui hamba Allah SWT yang sholeh, yang sedang dalam masalah serius.

Kisah diatas memberikan pelajaran bagi kita semua. Meski pun nasehat tersebut disampaikan kepada Zubair, namun tetap bisa kita ambil hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan kita. Manusia hidup tentu pernah mendapatkan persoalan. Namun, jangan sampai persoalan itu membuat pikiran dan hati begitu sangat gelisah, sampai merasa putus assa. Nabi Khidir dalam kisah ini memberikan nasehat agar berdoa kepada Allah Ta’ala. Melalui doa itu, kita bisa meminta diberikan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Setelah berdoa, bertawakkalah kepada Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here